AKU !!!
Wanita menuju dewasa yang sungguh pathetic akan kehilangan mu
Menyambi ke berandamu hampir setiap hembusan jarum berputar
Dan masih kamu si pemeran tidak peduli
Masih sanggup bertukar kata dengan perempuan lain
dan Aku masih manusia paling menyedihkan di muka bumi
menyayat luka demi membiaskan darah di penjuru ingatanmu
Pria sialan dengan jarak ribuan kilometer
Cukup senang kah ?
Membalas gerakanku dengan rayuan manis ke para hawa
Dari ku,
Manusia paling menyedihkan di muka bumi yang akan terus mencintai mu
Wanita menuju dewasa yang sungguh pathetic akan kehilangan mu
Menyambi ke berandamu hampir setiap hembusan jarum berputar
Dan masih kamu si pemeran tidak peduli
Masih sanggup bertukar kata dengan perempuan lain
dan Aku masih manusia paling menyedihkan di muka bumi
menyayat luka demi membiaskan darah di penjuru ingatanmu
Pria sialan dengan jarak ribuan kilometer
Cukup senang kah ?
Membalas gerakanku dengan rayuan manis ke para hawa
Dari ku,
Manusia paling menyedihkan di muka bumi yang akan terus mencintai mu
In
Navigasi
Bandung tak lagi sama seperti beberapa bulan lalu, lalu
lalang kendaraan membuat ku gusar seakan kecemasan ku akan mabuk orang tiba tiba
muncul . Hujan malam itu terlalu menusuk tulang, sanggup membuatku menggigil
dibalik hangat nya selimut. Terlintas untuk menemui mu malam itu, namun terlalu
malas untuk sekedar ber ramah tamah. Bertanya kabar atau sekedar menjajaki
hubungan baru sebagai seorang teman jauh.
Sepertinya menghabiskan malam terakhir di sini dengan
mendatangi bar dan bertemu denganmu bukanlah hal yang buruk. Tepat jam 9 malam bar
kecil di balik barisan pertokoan itu menjadi titik dimana kejujuran kita
dimulai. Pernah sekali kita berencana untuk sedikit menghabiskan sisa malam
setelah menuntaskan tugas kuliah sialan itu untuk minum bersama. Bahkan tak
terwujud hingga aku memilih untuk kembali pulang. Wanita mu terus berganti dan
begitupun aku. Aku terlalu sibuk membahagiakan mereka disaat pikiran ini hanya
menginginkan kamu.
Pesan dari masing masing pun bahkan tak terkirim. Mungkin terhambat
diburuk nya situasi antara kita. Tabah kita pun menemui ujung. Lorong kelas bahkan tertawa membodoh-bodohi
kita yang hanya mampu melihat kita berjalan tak berarah dan menegok sejenak kebelakang sekedar memastikan
diantara kita menyetubuhi kedua bola
mata. Perasaan takut untuk mencintai mu dan segala kecemasan tak berguna
membuat cerita mu kesulitan menemui ujung.
Ingin sekali menciumi mu semalaman dan berfikir itu adalah
imajinasi terliarku. Mungkin rasa bibir mu lebih menyenangkan dibanding pria-pria
itu. Dan aku sangat yakin kamu akan menyukai hal yang sama. Mungkin pula itu
akan menjadi ujung dari certa kita yang sempat tertahan. Aku membayangkan itu
akan menjadi hal yang terbaik selama hidup ku. Seluruh pembuluh darah menuju
hati telah mengesampingkan perasaan untuk memiliki mu. Aku hanya membuat aturan
di saraf-saraf otak ku untuk menjalankan misi menciumi mu semalaman. Jika misi
ini selesai aku patut mendapatkan penghargaan yang lebih. Ah .. mungkin kamu
tidak akan mampu memberi penghargaan berupa status yang”ter” di antara
wanita-wanita mu .
Di balik tirai jendela kuciumi mu dengan penuh harapan misi
ini akan selesai. Dinginnya Bandung membantu untuk menghangatkan segala
kebekuan diantara kita. Percayalah, hujan dan petir telah berkonspirasi untuk
melancarkan usaha ku padamu. Entah apa yang membawa hingga jemariku merengkuh
dibalik punggung mu dan dan sel sel kulit kita menyatu sungguh ini adalah hal
ingin sekali kita inginkan- katamu.
Hingga dirintiknya jendela malam itu tak membuat ku
mengeringkan rasaku padamu. Kamu masih pria yang ku kagumi di kelas itu. Pria dengan
bau parfum yang sangat kuinginkan untuk menghabiskan sisa tahunku di sana. Pria
dengan segala wanita-wanita yang terus memuja mu. Pria dengan penuh kecemasan
ku untuk memiliki.
Dan kamu masih si Pria
dengan pencapaian telah merebut pikiran ini untuk menyetubuhimu.