Navigasi

5:00 AM


Bandung tak lagi sama seperti beberapa bulan lalu, lalu lalang kendaraan membuat ku gusar seakan kecemasan ku akan mabuk orang tiba tiba muncul . Hujan malam itu terlalu menusuk tulang, sanggup membuatku menggigil dibalik hangat nya selimut. Terlintas untuk menemui mu malam itu, namun terlalu malas untuk sekedar ber ramah tamah. Bertanya kabar atau sekedar menjajaki hubungan baru sebagai seorang teman jauh.

Sepertinya menghabiskan malam terakhir di sini dengan mendatangi bar dan bertemu denganmu bukanlah hal yang buruk. Tepat jam 9 malam bar kecil di balik barisan pertokoan itu menjadi titik dimana kejujuran kita dimulai. Pernah sekali kita berencana untuk sedikit menghabiskan sisa malam setelah menuntaskan tugas kuliah sialan itu untuk minum bersama. Bahkan tak terwujud hingga aku memilih untuk kembali pulang. Wanita mu terus berganti dan begitupun aku. Aku terlalu sibuk membahagiakan mereka disaat pikiran ini hanya menginginkan kamu.

Pesan dari masing masing pun bahkan tak terkirim. Mungkin terhambat diburuk nya situasi antara kita. Tabah kita pun menemui ujung.  Lorong kelas bahkan tertawa membodoh-bodohi kita yang hanya mampu melihat kita berjalan tak berarah dan menegok  sejenak kebelakang sekedar memastikan diantara  kita menyetubuhi kedua bola mata. Perasaan takut untuk mencintai mu dan segala kecemasan tak berguna membuat cerita mu kesulitan menemui ujung.

Ingin sekali menciumi mu semalaman dan berfikir itu adalah imajinasi terliarku. Mungkin rasa bibir mu lebih menyenangkan dibanding pria-pria itu. Dan aku sangat yakin kamu akan menyukai hal yang sama. Mungkin pula itu akan menjadi ujung dari certa kita yang sempat tertahan. Aku membayangkan itu akan menjadi hal yang terbaik selama hidup ku. Seluruh pembuluh darah menuju hati telah mengesampingkan perasaan untuk memiliki mu. Aku hanya membuat aturan di saraf-saraf otak ku untuk menjalankan misi menciumi mu semalaman. Jika misi ini selesai aku patut mendapatkan penghargaan yang lebih. Ah .. mungkin kamu tidak akan mampu memberi penghargaan berupa status yang”ter” di antara wanita-wanita mu .

Di balik tirai jendela kuciumi mu dengan penuh harapan misi ini akan selesai. Dinginnya Bandung membantu untuk menghangatkan segala kebekuan diantara kita. Percayalah, hujan dan petir telah berkonspirasi untuk melancarkan usaha ku padamu. Entah apa yang membawa hingga jemariku merengkuh dibalik punggung mu dan dan sel sel kulit kita menyatu sungguh ini adalah hal ingin sekali kita inginkan- katamu.

Hingga dirintiknya jendela malam itu tak membuat ku mengeringkan rasaku padamu. Kamu masih pria yang ku kagumi di kelas itu. Pria dengan bau parfum yang sangat kuinginkan untuk menghabiskan sisa tahunku di sana. Pria dengan segala wanita-wanita yang terus memuja mu. Pria dengan penuh kecemasan ku untuk memiliki. 
Dan kamu masih si  Pria dengan pencapaian telah merebut pikiran ini untuk menyetubuhimu.




You Might Also Like

1 comments

  1. tunggu sebentar... sabar ya.
    *mo ngitung kancing baju dulu*

    gombal... enggak... gombal... enggak... gombal...
    #ternyatagombalbingitzniy

    ReplyDelete

Subscribe