Surat Terbuka Untuk Sahabat : Zidnie Ilma
7:19 AM
Dear Mail,
Ketika anda membaca surat ini saya harap anda tidak perlu
mempersiapkan tissue karena sesungguhnaya barisan kalimat ini sangatlah receh
untuk dibaca. Seperti yang anda tahu, saya memiliki kesulitan untuk
bersosialisi dan berteman. Bisa dihitung jari mana yang benar benar teman
ketika kita dikampus dulu. Dan untuk menjajaki level persahabatan saya harus
memastikan anda orang yang layak menempat posisi itu dan saya pun
mempertanyakan diri saya apakah saya orang yang layak untuk menjadi sahabat
anda. Sudah begitu banyak momen momen berharga yang kita lalui bersama ; sedih
ketika saya harus patah hati dan tidak lamapun anda mengalami hal yang sama,
momen menjajaki dunia organisasi dimana saya harus mengalahkan ego saya sendiri
ketika harus terjun di keramaian dimana
saya sangat benci hal itu, anda pun sigap untuk mendengarkan segala keluhan
sampah hingga larut . Momen bahagia ketika awal minggu uang jajan kita cair disaat
yang bersamaan(hari senin semacam jumat agung bagi kami) dan membahagiakan diri sendiri dengan makan di
sushi teio di Buah Batu atau ramen Bajuri di entah dimana saya lupa alamatnya
bahkan touring dari Jakarta ke Bandung pun pernah kita lakukan. Kami memang
bodoh menghapal jalan tetapi setir kemudi kami yang salah arah selalu di
luruskan satu sama lain.
Hari ini saya memberi pesan singkat ke whatsapp anda untuk
mengajak buka puasa bersama. Saya tahu anda mengenal saya sangat dalam, saya
tidak akan mudah untuk diajak berkumpul apalagi mengajak orang lain. Anda adalah
pengecualian. Sejenis kerinduan saya sematkan dipesan singkat sore ini. Saya tahu rindu yang biasa saya tuliskan di tiap
puisi saya hanya untuk mereka yang hadir sementara dan pergi selamanya. Sekali lagi anda adalah pengecualian, sesungguhnya saya
rindu. Teramat rindu.
Teman sesungguhnya adalah
mereka yang benar benar mengerti disaat titik terbawah dan teratas dalam
hidup. Saya terbiasa sendiri akan
apapun, saya akan mencari mereka ketika saya butuh untuk mengangkat kembali
kejatuhan yang menimpa. Anda pun
pengecualian. Tidak kah selama ini kita merasakan kebetulan akan perasaan. Saya
membutuhkan anda dipikiran saya, selang tak lama anda menghubungi tanpa aba
aba. Tidak hanya sekali namun sering. Tidak kah itu kebetulan atau takdir Tuhan
yang selalu saya pertanyakan.
Dear Mail,
Tulisan ini hanya bagian kecil dari besarnya keberuntungan
saya memiliki sahabat seperti anda. Kecil dari makna kehadiran kita akan segalanya. Masih
tersimpan baik beberapa memori di tahun-tahun terakhir menjalani masa kuliah ;
kita tidak bisa dijauhkan dalam apapun dari memilih kost dari tahun awal hingga
akhir, kendaraan yang dimiliki pun sama, uang mingguan pun nominalnya ama, atm
yang digunakan pun sama, bahkan sepatu yang kita gunakan pun selalu sama. Kita benar
benar menikmati dan merayakan kehilangan dalam fase perubahan. Entah barang yang hilang atau orang yang telah pergi dari
hidup kita. Tidak kah itu hal menyenangkan jika dirayakan bersama?
Hari ini saya tidak terkejut dengan isi email anda, saya
memahami anda sepenuhnya. Perubahan itu baik dan anda memilih untuk menjadi
lebih baik. Sekali lagi saya harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah
menghadirkan anda kedalam hidup saya. Butuh waktu sepersekian menit untuk
merenungi kalimat anda satu per satu. Saya sedih dan senang disaat yang
bersamaan. Komitmen anda untuk berhijrah patut saya dukung dengan sungguh, dan
mengingatkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Jalan yang
anda pilih mungkin belum sanggup untuk saya jalani saat ini. Entah besok, lusa,
minggu depan , bulan depan dan kapanpun saya pun belum sanggup. Apa apa yang
anda hadapi dalam proses berhijrah ini mungkin akan terasa berat tetapi saya
yakin anda adalah pejuang yang sangat tangguh untuk melewati semuanya.
Saya berdoa untuk anda, untuk jalan yang anda pilih, untuk
keluarga anda, untuk segala ibadah yang anda jalani. Segala perih yang selalu
kita keluhkan akan berbuah manis dimasa depan. Segala batu yang
menghalangi jalan akan tersingkir dengan
lalu angin yang melandai. Percaya lah, akan selalu ada awan cerah dibalik
sengitnya badai. Semoga yang kita mimpikan akan menjadi kenyataan, yang kita
doakan akan menjadi pembalasan yang
baik.
Selamat berhijrah!
Doa dari Tuhan di penjuru agama yang saya anut
Resta Nirmala


0 comments