Everyone Loves Sex Then Why'd You Call Us A Slut ?

5:31 AM

Menginjak usia 20-something membuat saya mulai berani untuk membicarakan urusan hasrat ke orang lain. Pun, sex menjadi kebutuhan setara dengan teori Maslow terhadap kebutuhan primer berupa sandang, pangan, papan dan sex. Kebutuhan akan hasrat merupakan hak istimewa setiap manusia. Bergantung dengan apa dan siapa hasrat itu tersalurkan.

Di jaman kesetaraan gender saat ini, saya rasa membicarakan sex bukan hal yang tabu. Sekedar berbagi atau mendengarkan kisah dari orang lain buka hal yang patut untuk dicela. Satu hal yang membuat saya bingung adalah ketika seorang wanita membicarakan sex ke orang lain dan dilabelkan sebagai seorang pelacur atau sebutan wanita murahan lainnya. Kehilangan keperawanan di steorotipkan layaknya kehilangan harga diri. Kejam.

Dengan atau tanpa cinta, pertemuan hasrat mungkin saja untuk dilakukan. Sex merupakan sebuah kebutuhan layaknya manusia membutuhkan makan disaat lapar dan air mineral dingin di teriknya sinar matahari .Pria bisa saja melakukan hubungan intim dengan beberapa wanita di hidupnya dan bagi sebagian orang menganggap itu sebuah "kejantanan". Berbanding terbalik dengan wanita yang secara  "self proclaimed" mengakui telah melakukan hubungan intim dengan beberapa pria di hidupnya malah disebut pelacur, wanita murahan dan segelintir panggilan rendahan yang malah di ucapkan oleh sesama gender yaitu sesama perempuan.

Saya membaca artikel menarik dari sebuah website yang bisa dibaca disini . Tanpa bermaksud menyinggung dengan perilaku sex bebas, saya hanya ingin meyakinkan perempuan untuk tidak perlu "slutshamming" karena telah melakukan hubungan intim dengan pria atau pria pria. Dan berhenti menyebut sesama kita seorang pelacur atau wanita murahan. Semua orang menyukai hubungan sex bahkan seekor binatang pun.

Tidak kah sex hal yang menyenangkan jika dilakukan dengan orang yang menyenangkan pula ?
Everyone loves sex then why'd you call us a slut ?







disini

You Might Also Like

0 comments

Subscribe