Menilai Tanpa Harus Mengenal
4:19 AM
Sulitnya terlihat beda dilingkungan yang mayoritas membuatku susah untuk menempatkan diri. Cara berpakaian,
make up , penampilan dan tutur bicara menjadi hal yang diwajibkan untuk
mengikuti norma yang ada. Jika laki-laki di wajibkan untuk berpotongan rambut
cepak dan tidak menggunakan apapun di wajahnya maka wanita diwajibkan untuk
memiliki rambut yang panjang dengan pulasan bedak di seluruh wajah.
Semua orang sudah mampu melihat dan menilai apa yang terjadi
disekelilingnya. Hal yang menjadi sebuah penilaian didasarkan atas steorotip
masyarakat. Di Indonesia sendiri mematahkan steorotip masyarakat sama saja
dengan memecah tabu. Misal, jika melihat laki laki dengan cara berjalan yang
agak kemayu maka “sang penilai” menyebut nya sebagai banci, bencong atau pun
waria. Sang penilai tidak memerlukan status seberapa dekat dengan orang yang
dinilai. Padahal belum tentu cara berjalan menentukan ketertarikan seksual.
Hingga hal ini terjadi kepadaku sendiri. Aku memotong rambut
ku sangat pendek dari rambutku yang sebahu hingga terlihat leher secara
keseluruhan. Sejak dulu aku menyukai potongan rambut pendek. dan orang-orang terdekat disekelilngku pun mulai menyadari akan ciri khas ku yang lebih memilih potongan rambut pendek dibanding membiarkannya panjang. Namun “sang penilai” dari lingkup pertemananku bilang di sebuah grup instan
messaging bahwa aku mirip sekali dengan buci (Bahasa slang seorang lesbian). Biar aku
garis bawahi. Mirip sekali dengan buci .Bahkan aku pun tidak mengenal
dia secara dekat dan bertemu secara personal.
Ini cukup membuatku shock. Bagaimana mungkin orang yang belum pernah melihatku
secara langung bisa melabeli ku sebagai seorang lesbian.Bagaimana mungkin potongan
rambut pendek mencerminkan ketertarikan seksual bahkan terhadap sejenis ku. Tanpa
disadari aku mengalami gejala depresi. Aku mengalami pendarahan diluar masa
menstruasi ku. Semalaman aku muntah dan dadaku sesak. Aku pun tidak mengerti
mengapa hal ini menyebabkan gejala psikologis dan psikis ku terganggu. Ditambah
aku merasa tidak pede jika berbicara dengan temanku yang sesama perempuan. Tingkat
keinsyekuranku semakin tinggi. Aku merasa bahwa seorang wanita dengan potongan
rambut yang sangat pendek dilarang untuk berdekatan dengan sesama nya untuk
menghindari dari para sang penilai agar tidak di cap sebagai seorang”buci”.
Dari ucapan satu orang ini membuat hari-hari ku berantakan. Aku
tidak bersemangat untuk ke kantor atau bahkan bergossip ria dengan
teman-temanku. Aku menjadi perempuan yang murung dan tertutup belakangan ini. Depresi
ini bertambah malah ketika teman-temanku
membujuk”ngga kok, kamu cantik dengan potongan rambut kayak gini”. Yang sesungguhnya
hanya sebuah kalimat template agar aku berhenti meratapi ucapan dari “sang
penilai”. Mereka berharap aku bisa
kembali ceria dan melupakan masalah yang terjadi kemarin.
Mungkin hal ini tidak hanya aku yang merasakan. Banyak pula
orang depresi akan hasil penilaian orang lain di luar sana. Aku bisa merasakan apa
yang mereka rasakan. Tanpa bermaksud untuk menyakiti ada baiknya jika pemberian
label tidak merujuk pada ketertarikan seksual. Meski golongan-golongan seperti
itu banyak juga yang memiliki khas tersendiri. Tapi bagi kami yang memiliki
sexual preference: straight, itu sungguh hal yang menyakitkan.
Mengutip kalimat klasik yang sudah ada: don’t judge book by
its cover memang harus benar-benar diterapkan dari lingkup terkecil disekitar
kita. Dan sudah seharusnya kita berhenti melabeli orang lain dari segi
penampilannya. Pun untuk tidak mencampuri urusan sexuality preference. Oh ya
tidak lupa, apapun jenis kelaminnya, ketertarikan seksual dan penampilan
mestinya menjadikan manusia seutuhnya yang tidak merugikan ke sesama. Bukan begitu
?
3 comments
Begitu...
ReplyDeletedon't mind them. life's too short to become someone else :D
ReplyDeleteOMG OMG OMG OMG OMG ...
DeleteTHE MOST INFLUENCE PERSON ON EARTH HAS BEEN GAVE HIS COMMENT ON MY PERSONAL BLOG
Iyaa pak. i was feeling soo sensitive that day not like i used to yang cuek banget
thanks for stopped by, ive been reading all your articles almost everyday ehehe