Rumah Kelomang
2:01 AM
Dibelakang rumah ada sebuah kandang kayu tiga tingkat peliharaan Bapak. Kandang dengan empat kaki-kaki kayu mahoni dan jendela kawat persegi empat. Tangga nya terbuat dari kayu jati pilihan tukang kayu langganan Bapak. Tidak ada bunyi berdecit dari pijakan kayu jika diinjak. Engsel pintu besi dengan lekukan jari jari menjadi pembuka batasan antara kami dan Bapak. Saban sore Bapak menengok tiap tingkat untuk memastikan semua gastropoda peliharannya makan cukup. Jika satu gastropoda lemah Bapak tidak sungkan menyuruh pak Tono untuk membawa salah satu ke klinik. Klinik Sumber Waras yang ada di pertigaan jalan. Cukup dekat dari perumahan dimana Bapak tinggal Menelisik lebih jauh, Bapak adalah seorang kuda tua berumur 23 tahun dengan perawakan lusuh dan selalu mengunyah rumput gajah dimana dia berada sekalipun ketika buang air. Rumput gajah pilihan Bapak dibeli di pasar sore setiap hari Rabu. Pak Tono, orang kepercayaan Bapak juga sebagai petugas Quality Control untuk memilih rumput gajah terbaik. Rumput gajah harus berusia 2 bulan 27 hari dari proses sejak ditanam. Lebih dari itu rumput gajah tidak enak dimakan karena terlalu keras. Jika masih mudapun rumput gajah sangat lunak seperti bakmie dipinggir jalan.
Bapak merupakan sosok yang egois. Jika satu egois disamaratakan dengan satu karung rumput gajah mungkin Bapak bisa membangun lumbung seluas propinsi Jawa Barat. 37.174 km persegi sama dengaan luasnya egois Bapak. Posisi Ridwan Kamil cepat atau lambat akan digantikan oleh seekor kuda egois yang suka mengunyah rumput gajah. Tapal pijakan Bapak sudah bocor. Lubang merembas disana sini. Sisa tambal bulan lalu pun sudah lepas. Tukang tambal sudah lelah menasihatinya untuk segera mengganti dengan tapal yang baru.Tapal kuda Bapak sudah usang, bukan tidak mampu untuk membeli yang baru namun Bapak lebih memilih menggunakan koin-koin emas demi kami.
"Nanti saja, kelomang-kelomangku belum cukup besar"
Untuk seekor kuda harusnya berlari sudah menjadi kewajiban tetapi tidak buat Bapak. Bapak menyukai olahraga tanpa keringat. Baginya keringat itu najis besar yang harus dihindari bagi nya yang memiliki keyakinan. Satu satunya olahraga yag bapak suka adalah diskusi. Bapak sangat menyukai kata-kata. Setiap kalimat yang muncul dari lawan bicaranya adalah ganja segar khas Dataran Tinggi Gayo yang dulu dibawa Belanda di abad 19. Bapak mudah terbuai dengan kata kata. Olahraga otak yang tidak memerlukan keringat sama sekali. Kalaupun berkeringat tidak akan mengganggu kunyahan rumput gajah nya.
Sore menjelang Bapak mengunjungi kelomangnya memastikan makan kami cukup. Walaupun cangkang kami masih lunak, Bapak rutin mengolesi nya dengan minyak zaitun agar keras dan kuat. Halus dan perlahan bahkan kesela sela jari. Dipojok sana Pak Tono sibuk mempersiapkan piring berisi kudapan sore Bapak. Rumput gajah dengan teh poci tawar hangat. Bapak menceritakan bagaimana kecilnya dulu. Orang tua Bapak selalu menerapkan seekor kuda harus dipaksa untuk tangguh. Mengenyam subjek sebagai seekor kuda, beban berat harus dijalaninya seumur hidup. Kuda tidak boleh menangis.Kuda tidak boleh mengeluh. Kuda tidak boleh memakai rok. Kuda tidak boleh tersinggung. Kuda itu tidak boleh bersolek.
Bapak hidup dalam stigma masyarakat patriarki. Sistem yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kuda dahulu. Suka atau tidak,mau tidak mau Bapak harus mengemban tugas sebagai seorang kuda. Kami para kelomang memahami kegelisahan bapak. Sambil terus mengolesi cangkang lunak kami dengan minyak zaitun Bapak selalu berdoa agar cangkang kami makin kuat. Kuda tidak boleh menangis, begitupun Bapak.
"Kalau cangkang mu sudah keras segeralah pergi dari kandang ini. Jika kandangmu berada di tingkat tiga coba lah perlahan menuruni anak tangga. Lari hanya untuk kelomang yang tidak menyukai proses. Salah satu penyebab keringat. Kalian tahu kan kalau keringat itu adalah najis. Keyakinan ku mengharamkan najis"
Rutinitas ini pun menjadi kewajiban diantara sholat lima waktu dan ibadah gereja di hari Minggu. Ah Minggu, kami menyukai hari Minggu. Hari dimana para makhluk gastropoda bersolek. Menghias cangkang yang hari demi hari makin keras. Demi menunjukan kemolekan kepada gastropoda lain. Bapak menyukai ketika kami bersolek. Dia memuji sebaik mungkin bahwa kami lah kelomang yang paling menawan diantara kelomang lain peliharaan tetangga.
Cangkang kami makin keras, sudah waktunya kami pindah. Tapi Bapak belum mengizinkan kami untuk segera pergi. Waktu kami tinggal sebentar dan harus segera menemukan rumah baru. Bapak bilang jika kami ingin pergi Bapak harus memastikan rumah yang baru adalah kandang terbaik dari yang pernah ada. meski kandang Bapak adalah rumah nyaman bagi kami. Maka beban kerja kami semakin berat untuk menemukan rumah kelomang baru.
Bagi Bapak, cangkang adalah batasan pikiran -pikiran. Jika kelomang ingin pergi bebas dan menikmati sisa sisa hidup maka pergilah tanpa cangkang. Bapak yakin kami cukup tangguh tanpa cangkang. Batasan pikiran hanya abstrak. Dimana harus menyamaratakan standar berupa garis garis semu untuk sebuah teori. Cangkang sudah keras dan kami diminta untuk tetap tinggal sementara waktu. Membiasakan diri selamanya telanjang tentu tidak mudah. Membiarkan angin menyusuri pori-pori kulit epidermis dan folikel rambut adalah pekerjaan tersulit bagi angin. Kami pun mempersiapkan diri untuk hal itu terjadi. Sebagaimana tangguh adalah mampu bertahan di ketinggian 8848 meter gunung Everest dan tenggelam dikedalaman 10.911 meter Palung Mariana. Pergi ke Nepal, menyusuri bagian terdalam Peru menyusuri tiap jalan dan menyamakan tinggi kaki.
Gerombolan kelomang peliharaan Bapak sudah siap bergegas menuju terminal. Bus terakhir di pukul 23.20 malam. Kaki-kaki kami menuju ruang tempat dimana Bapak menghabiskan hari nya. Kuda tua yang tangguh dan tidak pernah menangis harus hidup di cangkang partiarki. Ingin kami mengulangi kembali menatap mata sayup dan bercerita tentang masa depan. Kala itu bapak hanya sanggup tersenyum. Meski sedih adalah keringat yang harus ditutupi oleh tapal. Sebab tabah dan ikhlas bukan berarti diam tetapi merelakan.
Kunyahan rumput gajah di mulut bapak adalah hal terakhir yang kami lihat sebelum bapak terbujur kaku di kursi goyang favoritnya. Segelas teh tawar dan martabak keju di meja menjadi saksi peninggalan bapak dan mungkin menjadi warisan untuk kami didepan notaris.
Di pojok dapur, kulihat Pak Tono menyinggungkan senyum sambil memegang plastik arsenik.
0 comments