Dipaksa Waras
2:45 AM
Hidup di ibukota membuat semua orang gampang mengalami
depresi. Jam kerja yang panjang, tekanan kerja yang tinggi, lalu lintas yag
padat, udara yang membuat jantung harus bekerja keras dari semestinya, dan
ditambah pola makan yang kurang sehat. Tidak dapat dipungkiri banyak warga
Jakarta yang sakit, baik fisik maupun mental. Menghadapi rutinitas yang sama
setiap hari tanpa henti membuatku memaksakan diri untuk tetap waras.
Yaa waras, seakan akan jiwa in sudah gila sudah ngga mampu
lagi berfikir rasional. Seakan sangat
membutuhkan psikiater dengan antidepressan di dalamnya.
Setiap pagi aku habiskan waktu 1,5 jam untuk berangkat ke
kantor. Melihat wajah-wajah masih ingin terlelap di dalam bus seakan mereka
membutuhkan libur 4 hari dalam seminggu. Ratusan manusia berjalan gontai bak
sekumpulan zombie yang malas mengejar mangsa melewati koridor bus Transjakarta.
Tangan pun sudah tidak sanggup menggapai pegangan didalam bus. Goyangan tubuh
melemas ketika sang supir mengerem bus secara mendadak. Decak tanda kecewa
mulai ditunjukan para penumpang. Hal ini
udah menjadi rutinitas yang diwajibkan bahkan sudah menjadi iman bagi pekerja
di Jakarta.
Bagiku, menghadapi situasi seperti ini secara terus menerus
membuatku mudah sekali depresi. Aku sangat mencintai pekerjaanku namun hal yang
membuatku depresi bukan dari tekanan pekerjaan, tetapi rutinitas jalan raya
yang kujalani setiap hari nya. Sengitnya persaingan di jalan raya mengalahkan
pertandingan bola di lapangan hijau. Mau tidak mau aku harus memaksakan diriku
agar tetap waras. Biaya hidup di Jakarta lebih tinggi dibanding saat aku
tinggal di Bandung. Dan tidak memungkinkan bagiku memilih untuk nge-kost selama
di Jakarta. Solusi nya aku harus melawan stress nya jalanan ibukota tapi
pikiran ku tetap chill pada jalurnya.
Caraku untuk tetap waras selain olahraga adalah membaca. Aku selalu menyempatkan 10
menit setelah bangun tidur untuk melemaskan otot-otot yang tegang, entah itu
sit up atau sekedar pemanasan. Ini sangat membantuku untuk merefresh pikiran sebelum terkotori oleh
padatnya jalan Jakarta. Diakhir pekan aku menyempatkan diri di satu hari untuk jogging dan work out. Rentang waktu yang aku butuh nya hanya sekitar 2 jam
dengan jeda disela-sela nya.
Di dalam bus, aku selalu membawa buku dan membaca nya
sembari melewati jalan menuju kantor. Ini aku lakukan untuk mengalihkan
pandanganku melihat padatnya kendaraan di jalan. Jika sudah terlalu suntuk
disetiap harinya aku mengundang teman-temanku untuk bercengkrama dengan segelas
kopi atau bir setelah pulang kantor. Semua akan dilakukan demi bisa waras
menjalani rutinitas. Banyak cara untuk tetap menjadi manusia dengan segala
kewarasan yang utuh. Kurasa aku akan membuat appointment dengan psikiater jika jalan yang kulakukan menuju waras
sudah tertutup dengan stress yang tak kunjung usai.
Untuk menjadi waras itu bukan suatu pilihan tapi paksaan.
Aku dipaksa waras
oleh Jakarta .
0 comments