“kapan nikah?”

1:10 PM


Ini pertanyaan paling bikin insekyur yang semua orang mendadak mood turn off
Pun aku begitu. Bukan karena terlalu mainstream tapi lebih ke filosofi pernikahan . okey, mungkin tulisan aku ini bisa bikin garuk-garuk kepala. Jalan pikiran di otak ini  sudah di tahap yang mengkhawatirkan. Sejujurnya aku skeptis dengan yang namanya hubungan. Menurutku itu tidak lebih dari jalan menuju sebuah perpisahan, semacam pipa saluran dari hulu ke hilir tanpa memerlukan teori dari seorang ahli semua orang tahu bahwa air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah . Ditanya soal pernikahan aku selalu menggeleng-gelengkan kepala. Bukan tidak ingin namun menikah hanya sebatas urusan administrasi dengan pemerintah. Dan penghulu yang gak tau apa apa tapi seenaknya melegalkan hubungan seseeorang tanpa tahu cara berjuang untuk sebuah cinta. Tetek bebek berkas dan segala opini orang akan calon paangan membuat aku merasa pernikahan itu tidak perlu. Yes, I lost my fuckin mind.

Untuk kamu yang berusaha untuk memecahkan kerasnya dinding yang aku buat, akan aku jelaskan mengapa pernikahan itu tidak perlu

1.       Aku hampir tidak pernah datang ke pernikahan teman-temanku bahkan untuk menyentuh undangan nya saja aku takut. Bukan karena masalah personal tetapi didalam diri aku sudah terbuat komposisi perpisahan dan penyesalan yang sangat apik  . Disaat semua tamu undangan ikut berbahagia aku membayangkan wajah mereka di 15 tahun pernikahan. Atau bahkan salah satu diantara mereka sedang mengurus berkas harta gono gini di pengadilan. Yang artinya semua akan berujung pada perpisahan. Aku lebih sering mendatangi pernikahan orang lain, teman dari temanku. Karena tidak terlalu kenal si pengantin dan aku merasa tidak perlu khawatir jika mereka berpisah. Hehe egois ya :D

2.       Menikah membahagiakan siapa ? aku rasa hanya membahagiakan tamu undangan dengan berbagai menu makanan catering, membahagiakan wedding organizer untuk sebuah perkara hak dan kewajiban tertulis di atas kontrak perjanjian, orang tua dari calon pasangan yang berharap agar anak nya di jaga dengan baik , membahagiakan orang tua yang pada dasarnya semua orang tua memang diwajibkan untuk bahagia disetiap langkah yang anaknya pilih. Oh iya satu lagi, membahagiakan penghulu karena kita memberikan pekerjaan kepada mereka demi sebuah pelegalan hubungan.

3.       Steorotip masyarakat. Di Indonesia kebahagiakaan seseorang di standarisasikan dengan kultur yang sudah turun temurun dari jaman nenek moyang. Perempuan di umur 25 tahun harus menikah karena kalau tidak menikah dianggap perawan tua (padahal bisa jadi perempuan itu sudah melakukan hubungan sex sebelum diumur 25 tahun hehe). Perawan tua adalah sebutan untuk perempuan jelek, diumur yang matang, sayangnya gak ada pria yang mau karena sudah terlalu tua dan tidak layak untuk di nikahi. Miris? Ya itulah yang terjadi.

4.       Never ending question. Setelah ditanya “kapan nikah?” akan diberondong pertanyaan bertubi- tubi seperti “ kapan punya anak?” atau “ kapan mau nambah momongan itu kaka nya mau punya ade lagi?”. Pertanyaan yang ditujukan dari orang-orang yang layak di bom atom adalah” kapan punya rumah sendiri, emang nya enak tinggal di PIM(Pondok Mertua Indah)”. Memangnya harga rumah Cuma 2000 perak yang kalo beli ceban dapet 5 unit rumah . huh!

5.       Interpersonal. Jika aku memiliki pasangan nanti, aku ingin yang merasakan kebahagiaan ya hanya kita sendiri. Terlalu egois memang, tapi sudah sewajarnya setiap manusia menentukan cara mereka untuk berbahagia. Mungkin bisikan akan tuntutan menuju  kebahagiaan yang hakiki menurut orang lain udah gak perlu lagi di serap. Kadang idealis itu perlu untuk mencapai kebahagiaan semesta.

Masih banyak alasan kenapa pemikiran akan menikah harus dikaji ulang. Tapi aku terlalu letih menatap cahaya dari komputer jinjing, ditambah sinyal wifi gak sanggup mencapai kamar ku di lantai ke 4. Damn!



PS: tulisan ini dibuat di lobby hotel  jam 3:04 pagi dimana semua orang sedang bersetubuh di dalam kamar masing-masing dan aku menjamah tuts laptop dengan tabah.

You Might Also Like

5 comments

  1. inti-nya bkn tentang se-berapa siap dan sudah se-jauh mana ke-siap-an itu. tapi apakah yg bukan inti itu adalah benar inti-nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Wildan,
      intinya adalah kekosongan akan kepercayaan didalam inti hati manusia ke sesama.

      Delete
  2. inti-nya bkn tentang se-berapa siap dan sudah se-jauh mana ke-siap-an itu. tapi apakah yg bukan inti itu adalah benar inti-nya...

    ReplyDelete
  3. Hmmm... implusip, naha teh ? neangan anuk iraha yeuh?

    ReplyDelete
  4. Kapan nikah ??? 😢😢 haha gue sekarang udah punya jawaban saat pertanyaan bangke itu mampir dikuping gue , KAMIS KALAU GA KESIANGAN !!

    ReplyDelete

Subscribe