Sebagian orang hypocrite akan perasaannya sendiri, sebagian
memilih untuk jujur dan sisanya hanya bersembunyi dibalik topeng keluguan. Selingkuh
bukan lagi sesuatu yang besar untuk ditutupi, bahkan ada yang terang-terangan
memperlihatkan momen-momen kebersamaan dengan yang bukan pasangannya. Ada yang
salah dengan cara manusia memaknai hubungan. Pada dasarnya selingkuh adalah
kesalahan besar yang pernah dilakukan manusia. Tidak bermaksud menghakimi,
namun selingkuh bukan solusi untuk mengatasi kebosanan terhadap pasangan. Jika sudah
tidak saling mencintai mengapa tidak beranjak mundur dan meninggalkan masing
masing atau berusaha untuk tetap mempertahankan demi sebuah kata bernama “kita”.
Bagaimana jika kita adalah pihak ketiga yang melihat sebuah
perselingkuhan didepan mata. Mungkin agak cringy dan berusaha untuk menutup
mata. Ingin mengingatkan tetapi menasihati orang yang sedang jatuh cinta adalah
perbuatan yang sia-sia, begitu kata om Sujiwo Tedjo. Apakah harus menunggu
hingga ada yang terjatuh dan sadar atau mengingatkan untuk tidak menerjang
lubang menganga didepan.
Lalu, bagaimana jika ada kesempatan untuk selingkuh. Tidak ada
yang namanya brengsek, yang ada hanya orang-orang yang tidak menyia-nyiakan
kesempatan. Terdengar munafik, tetapi itulah yang ada dipikiran para pelaku
per-cheating-an. Selama tidak ada
yang dirugikan mengapa tidak. Pertanyaan terbesar apakah ada sepintas rasa
bersalah kepada pasangan masing-masing atau mungkin hati dan perasaan sudah
tertutup rapat oleh nafsu ?
Dan bagaimana jika masih bertahan dengan orang yang
semestinya adalah milik orang lain. Tempat mu bersandar bukan milik mu
sepenuhnya. Kapan harus berhenti , kapan harus meninggalkan atau kapan yang
tepat untuk kembali ?
Cipete ; 19.26.










